Self Talk, Kesepian Psikologis, dan Perilaku Maladaptif pada Film “Tinggal Meninggal”

Film Tinggal Meninggal merupakan film bergenre komedi gelap yang disutradarai oleh Kristo Imanuel dan diproduksi oleh Imajinari bersama Trinity Entertainment Network. Film ini dirilis pada tahun 2025 dan dibintangi oleh Omara Esteghlal, Nirina Zubir, Mawar Eva de Jongh, Muhadkly Acho, Ardit Erwandha, Shindy Huang, Mario Caesar, Nada Novia, dan Jared Ali. Film ini mengisahkan Gema (Omara Esteghlal), seorang pemuda canggung yang mengalami kesepian psikologis dan merasa kurang mendapatkan perhatian dari lingkungan sekitarnya. Perubahan terjadi ketika ayah Gema meninggal dunia, peristiwa yang secara tiba-tiba membuatnya menerima perhatian dan empati dari rekan-rekan kerjanya. Namun, perhatian tersebut bersifat sementara dan mulai memudar seiring waktu, sehingga memunculkan dorongan pada diri Gema untuk kembali mendapatkan validasi sosial yang sempat ia rasakan.

Gema ditampilkan memiliki kesepian psikologis yang disebabkan oleh kurangnya perhatian orang tua dan perundungan verbal oleh teman sekolahnya. Kesepian psikologis merupakaan keadaan di mana seseorang merasa tidak terhubung secara emosional, tidak dipahami, atau tidak diterima oleh sekitarnya. Sepanjang film, Gema ditampilkan sering berbicara dengan dirinya sendiri, baik secara tidak sadar di hadapan orang lain maupun ketika berada sendirian di kamar. Perilaku ini dikenal sebagai self talk atau komunikasi intrapersonal, yaitu dialog internal yang memengaruhi emosi, persepsi diri, dan perilaku individu. Dalam kajian psikologi, self talk dapat bersifat positif maupun negatif. Self talk positif berfungsi mendukung individu, bersifat realistis, dan membantu regulasi emosi. Sebaliknya, self talk negatif cenderung irasional dan berkontribusi terhadap munculnya stres, kecemasan, serta gangguan emosional lainnya.

Self talk yang ditampilkan oleh Gema tergolong sebagai self talk negatif yang bersifat maladaptif. Dialog batin tersebut secara semu memberikan ketenangan, tetapi tidak membantu penyelesaian masalah yang dihadapi. Self talk ini berfungsi sebagai mekanisme koping atas perasaan kesepian dan kurangnya perhatian yang telah ia alami sejak awal film. Seiring berjalannya cerita, Gema semakin mengandalkan self talk sebagai cara untuk menghadapi kecemasan akan kesepian dan kebutuhan akan validasi dari lingkungan sosialnya.

Salah satu bentuk self talk negatif Gema terlihat pada keyakinannya bahwa orang-orang hanya akan peduli kepadanya ketika ia mengalami musibah. Pola pikir ini bersifat irasional dan mendorong munculnya pikiran obsesif untuk terus mempertahankan kebohongan demi memperoleh perhatian. Dalam psikologi kognitif, pola pikir semacam ini dikenal sebagai catastrophic thinking atau pikiran katastrofik, yaitu kecenderungan meyakini bahwa hal buruk akan terjadi atau bahwa satu-satunya cara untuk menghindari penderitaan adalah melalui skenario ekstrem.

Lebih lanjut, perilaku Gema menunjukkan kecenderungan mitomania serta pola pikir yang konsisten dengan sifat narsistik rentan (vulnerable narcissism). Mitomania merujuk pada kebiasaan berbohong secara kompulsif yang sering kali muncul sebagai upaya mengatasi rasa tidak aman dan rendahnya harga diri. Perilaku mitomania juga ditampilkan oleh Danu, rekan kerja Gema, yang melakukan kebohongan untuk menampilkan citra dirinya yang lebih baik dan pengakuan dari orang lain. Sementara itu, narsistik rentan ditandai oleh perasaan tidak berharga, kebutuhan akan validasi eksternal, serta hipersensitivitas terhadap penolakan sosial. Dalam konteks ini, kebohongan yang dilakukan Gema tidak dapat dipahami semata-mata sebagai tindakan manipulatif, melainkan sebagai ekspresi dari konflik psikologis yang lebih dalam.

Dengan demikian, permasalahan utama yang dialami Gema bukan terletak pada kebohongannya, melainkan pada cara ia berkomunikasi dengan dirinya sendiri melalui self talk yang maladaptif. Self talk tersebut tidak membantu Gema memahami atau mengolah emosinya, tetapi justru memperkuat perasaan tidak berharga dan ketergantungannya pada validasi eksternal.

Self talk dapat kita jadikan sebagai cara untuk mengatur emosi, membangun motivasi, dan menghadapi masalah tanpa sekedar menghibur diri dengan cara maladaptif. Tetapi, jika dilakukan dengan cara yang tidka benar, dapat memunculkan rasa tidak berharga, kecemasan, dan depresi. Untuk melakukan self talk positif yang benar yaitu dengan memerhatikan pikiran tanpa menghakimi diri sendiri. Jika memiliki pikiran negatif, kita dapat mengubahnya menjadi hal yang lebih realistis dan bersifat menenangkan. Kita juga dapat menambahkan self talk yang memotivasi dan memberikan afirmasi positif kepada diri sendiri.

Film ini menunjukkan bagaimana kesepian psikologis dapat memengaruhi pikiran seseorang sehingga menghasilkan perilaku maladaptif pada diri Gema. Kisah Gema dapat menjadi pembelajaran bagi kita untuk dapat mengelola pikiran menjadi lebih positif dan rasional. Self talk dapat menjadi pisau bermata dua di mana jika dilakukan dengan cara yang salah, dapat menghasilkan hasil yang negatif dan tidak menghasilkan solusi. Tetap jaga kesehatan mental kita dan kunjungi professional jika membutuhkan.