Blog

JUARA 1 – JEJAK MERAIH SNELI 2021 – SALMA SA’DIYAH

image-1
Artikel Wilayah 2

JUARA 1 – JEJAK MERAIH SNELI 2021 – SALMA SA’DIYAH

Salma Sa’diyah – Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Lika-liku Meraih Impian

Aku bersekolah di pondok madani Jawa Timur yang berfokuskan pada bahasa dan disiplin sebagaimana pondok lainnya, hanya saja komposisi pelajaran umum pada kurikulum pondokku ini tidak memadai. Jalan kesuksesan para lulusan pondokku ini sangat luas dan beragam. Namun, jalan menuju pendidikan sains sangat minim dan hampir tidak ada. Hal tersebut menjadikanku kian berdilema akan langkah selanjutnya menuju masa depan yang kuinginkan. Keinginan menjadi dokter dengan tujuan membantu orang banyak dalam berbagai bidang serta kecintaanku terhadap belajar menjadikan pembelajaran sepanjang hayat sangat kudambakan. Dengan berat hati, kusampaikan hal tersebut kepada kedua orang tuaku saat datang menjenguk, tentang cita-cita dan kemungkinanku untuk menggapainya apabila aku tetap menuntut ilmu di pondok madani.

Lantunan ayat suci Al-Qur’an terdengar di setiap sudut asrama, tetesan air keran yang mengalir untuk para santri berwudhu dan bercengkrama di masjid meramaikan waktu maghrib di pondok ini. Aku terduduk di pojok masjid, bercanda ria dengan teman-temanku menanyakan masa depan yang dicita-citakan mereka. Mendengar jawaban antusias teman-temanku membuatku tersenyum, lalu kembali muram sambil memikirkan masa depan yang kucita-citakan.

            “Mama, Ayah, adik ingin menjadi dokter.” Ucapku.

            Keduanya terdiam dan saling bertatapan. Sejenak ayah dan mama saling ingin mendahului untuk bertanya padaku perihal keputusanku.

            “Meski kamu ingin menjadi dokter, nggak apa kan melanjutkan pendidikan di pondok?” tanya mama.

            “Mungkin aku bisa masuk kedokteran, tapi aku nggak yakin bisa bersaing dengan ilmu umum yang kupelajari di pondok ini.” Jawabku.

Mama dan ayah kembali terdiam dan mengangguk membenarkan pernyataan yang kusampaikan. Tetapi keduanya belum bisa memutuskan. Mama dan ayah kemudian memahami dan menanyakan kembali keteguhan dalam pilihanku ini. Keduanya pun tidak yakin akan kelanjutan masa depanku dengan kondisi pondok yang tidak menyediakan ijazah Sekolah Menengah Pertama (SMP) untuk kelanjutan Sekolah Menengah Atas (SMA) kedepannya. Dengan tegas ayahku berkata “Semuanya perlu dicoba, semuanya perlu diperjuangkan”. Nekat, kami pun mengajukan surat izin pindah dan kembali ke rumah. Selama di rumah, aku mengikuti berbagai pembekalan ilmu umum yang dibutuhkan sebagai persyaratan SMA dan persiapan menghadapi Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN).

Kami mencari informasi dan kemungkinan keberlanjutan pendidikan ke berbagai SMA dengan basis pendidikan pondok. Namun, seluruhnya menolak siswa pindahan tanpa ijazah SMP. Kabar tersebut tidak mematahkan semangat juangku, rencana menjalani homeschooling pun kulakukan demi mengisi waktu kosong dengan persiapan yang matang. Tak kusangka relasi dan koneksi selama homeschooling yang aku jalani membuka jalan yang pupus sebelumnya mengenai kelanjutan SMA dengan pengurusan ijazah SMP. Akhirnya aku mendaftarkan diri ke salah satu pondok berkurikulum SMA dengan perjanjian sambil mengurus ijazah SMP tersebut.

Proses pendaftaran kulalui secara runut dan akhirnya duduk di bangku 3 SMA dengan teman-teman baru. Beradaptasi dengan teman-teman baru di akhir masa SMA sangatlah berat. Persaingan yang ketat dan pelajaran-pelajaran umum yang baru ku hadapi harus selalu berada dalam kontrol agar aku tidak tertinggal dengan teman-teman yang lainnya. Hari demi hari kujalani dengan tekun belajar dan beradaptasi. Suatu hari, seorang guru masuk mencari dan mengajakku ke kantor kepala sekolah SMA. Begitu memasuki ruangan, bapak kepala sekolah mempersilahkanku duduk dan mengajakku bicara.

            “Saya dengar kamu pindah karena kepengen jadi dokter, terus kamu mau lanjut SMA, gitu ya?” tanyanya

            “Iya, pak” jawabku masih terheran-heran dengan alasan pertemuan ini

            “Tapi kamu kan nggak punya ijazah SMP, nggak bisa dong lanjut SMA” lanjutnya sambil mengangkat bahu.

            Aku terdiam, jantungku berdegup kencang, dan bulir-bulir keringat dingin mulai mengalir di pelipisku. Apakah kemungkinanku untuk melanjutkan SMA sudah tidak ada? Kembali aku terpikir dengan proses pendaftaran sampai aku dapat duduk di kelasku sekarang. Proses yang tidak mudah dan menghabiskan banyak biaya tersebut meyakinkanku untuk menjawab bapak kepala sekolah.

            “Saya dan orang tua sedang mengusahakan perihal ijazah SMP untuk kedepannya, pak.” Jawabku dengan suara yang bergetar.

            “Kamu yakin? Pemberkasan tidak semudah itu loh”

            “Iya, pak. Semoga saya juga diberi kemudahan dalam hal ini”

            “Yasudah kalau begitu, kamu boleh kembali ke kelas.”

Usai percakapan di ruang kepala sekolah diakhiri, aku segera beranjak menuju kelasku melanjutkan pelajaran. Sepergiku dari ruang kepala sekolah, tetes demi tetes air mata mulai berjatuhan. Kali ini tangisan yang membendung selama aku berusaha tegar di ruangan tersebut sudah tidak dapat terbendungi. Aku menangis namun dalam hati kutetapkan untuk selalu tegar. Ini adalah pilihanku dan ini hanya salah satu dari konsekuensi yang akan terus muncul di masa yang akan datang. Kuseka air mataku dan kembali melanjutkan pelajaran di kelas. Hari itu aku habiskan malamku mengaji dan berdoa kepada Yang Maha Esa, mendoakan kesuksesanku, orang-orang disekitarku dan mereka yang memudahkan maupun yang menyulitkanku. Kutanamkan dalam hati bahwa siapapun mereka tidak akan mengalahkan kuasa Yang Maha Esa jika sudah berkehendak.

Esok harinya mama dan ayah datang menjengukku dengan kabar gembira. Pengurusan berkas dari kemendikbud dan kemenag telah selesai. Walaupun aku tidak mendapatkan ijazah SMP, tetapi aku mendapatkan secarik kertas yang menyatakan persetaraan pondok madani telah diakui secara nasional. Kembali ku menangis terisak-isak dalam pelukan mama dan ayah, terharu dengan dukungan dan kasih sayang keduanya di setiap waktu. Kabar tersebut menjadikanku siap berjuang kembali dan terus berprestasi. Akhirnya aku dapat mendaftar UN SMA dan melanjutkan pembelajaran dengan semangat juang yang membara.

Hari kelulusan pun akhirnya tiba, hasil jerih payahku melanjutkan pendidikan menuai hasil yang memuaskan. Aku memperoleh juara 1 paralel dari 3 jurusan. Ini adalah sebuah pencapaian yang patut disyukuri. Jerih payah perjuanganku tampak pada hasil yang kuperjuangkan.

Usai upacara kelulusan SMA, aku segera berpartisipasi dalam camp persiapan SBMPTN 2019. Penyediaan kurikulum camp SMBPTN yang dikhususkan untuk menghadapi soal-soal menyeluruh sangat padat dan berat karena berlangsung saat Ramadhan. Kebanyakan tutor tidak dapat hadir dan semangat belajar tidak maksimal. Aku kembali harus beradaptasi dengan pelajaran umum dengan tingkat yang lebih tinggi dan sulit. Try out yang dilaksanakan oleh pihak camp lagi-lagi mempresentasikan kemampuanku yang belum memadai untuk persaingan pendaftar kedokteran pada SBMPTN. Lagi-lagi aku harus segera mengejar ketertinggalanku ini. Aku berusaha semaksimal mungkin dengan sisa waktu yang ada. Waktu terasa sangat kurang, namun aku tidak berputus asa. Setiap waktu yang tersisa kosong segera kuisi dengan belajar, belajar, dan belajar, pagi siang dan malam.

Bulan berganti bulan, Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) gelombang 1 dan 2 telah usai. Pengunguman hasil SBMPTN pun sudah dapat diakses. Namun, tidak ada kabar gembira dari hasil keduanya. Harapan untuk mengejar mimpi belum hilang. Kali ini daftar ujian mandiri setiap universitas menjadi pegangan. Banyaknya universitas yang melaksanakan ujian di berbagai tempat pada waktu yang sama mengharuskanku untuk memprioritaskan beberapa universitas saja dan tidak mengambil beberapa universitas lainnya.

Total 13 tes kujalani dari perguruan tinggi negri (PTN) di Pulau Jawa, Sumatera, dan Sulawesi dengan pengorbanan waktu dan biaya. Namun, satupun tidak membawa hasil yang diharapkan. Hari-hari penantian pengumuman hasil ujian mandiri kujalani dengan kemurungan. resah dan takut akan hasil yang akan kuterima sangat menghantuiku saat itu. Sampai dengan pengunguman penerimaan Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) menyatakan aku lulus tahap pertama dan akan melanjutkan tahap kedua esok hari setelah pengumuman. Kabar tersebut membangkitkan kembali semangat, asa, dan impian yang telah redup. Kedua orang tuaku menemani perjalanan menuju tahap kedua di Untirta, Cilegon, Banten. Tes Multiple Mini Interview (MMI) yang diadakan sangat menegangkan.

Dari 100 peserta tes MMI hanya 50 peserta terbaik yang akan diterima sebagai mahasiswa baru Kedokteran Untirta 2019. Keringat dingin kembali bercucuran. Kuhadapi setiap dosen dan pengawas dengan berbagai pertanyaan yang menunjukkan personalitas individu yang diuji dengan percaya diri. Pengumuman mahasiswa baru yang diterima dari tes MMI yang dilakukan segera disampaikan 3 hari setelahnya. Namun, ternyata aku masih belum lulus sebagai mahasiswa baru di Untirta. Mama dan ayah terdiam. Masing-masing dari kami seperti ingin menyampaikan sesuatu, tetapi aku terlanjut membisu. Aku segera kembali ke kamar tidurku, mematikan lampu, dan berselimut. Kututupi wajahku dengan bantal, kemudian mulai menitikkan air mata. Kudekap bantalku erat-erat sambil menahan suara agar tangisku tak terdengar. Kemudian penyesalan-penyesalan yang kubuang jauh mulai kembali ke pikiranku.

Penyesalan akan usahaku yang tidak maksimal, sia-sianya dukungan orang tua padaku, biaya dan upaya yang sudah dikerahkan agar aku bisa mencapai titik ini menjadi beban pikiranku. Kulinangkan air mataku sepuasnya dan mulai menenangkan diri. Kini apa yang akan kulakukan kedepannya. Pilihan utama yang akan kupilih adalah menjalani gap year. Guru dan teman-temanku terus menawarkanku untuk mendaftarkan diri ke Perguruan Tinggi Swasta (PTS). Namun, aku sudah tak kuasa harus membebani orang tuaku dengan biaya yang sangat tinggi. Kusampaikan niatku untuk menjalani gap year kepada mama dan ayah. Dibalik kesedihannya, mama dan ayah tetap memberikan dukungan dan masukan positif terhadap keputusanku. Aku segera mendaftarkan diri di bimbingan belajar khusus gap year agar setiap waktu yang kujalani tak terbuang sia-sia. Target untuk tembus SBMPTN tahun depan kupegang erat-erat, kuteguhkan dalam hati bahwa penyesalan yang ada harus menjadi pembelajaran yang bermakna untuk kesempatan esok hari. Perjalanan yang akan kutempuh masih panjang, waktuku tersedia banyak untuk memulai lagi impian yang telah pupus. Kuperbarui niat dan kujalani seluruhnya dengan sepenuh hati.

Aku mulai berteman lagi dengan teman-teman baru di bimbingan belajar ini. Mereka yang telah berjuang di tahun ini dan akan berjuang bersamaku di tahun depan. Proses pembelajaran menjadi lebih ringan dengan alokasi waktu yang baik. Pada hari ke-3 dari bimbingan belajar yang aku lalui, aku menerima telepon dari nomor yang tidak dikenal.

            “Halo, Mbak Salma, saya Tono dari Untirta, mau tanya terkait Kedokteran Untirta”

            “Iya dengan saya sendiri, pak”

            “Baik, saya izin bertanya apakah saudari masih berkenan untuk melanjutkan studinya di Kedokteran Untirta?”

            “…Iya” aku terdiam sejenak tidak bisa menjawab, antara kaget, tidak percaya, senang tak bisa terekspresikan, jawabanku pun terdengar tidak meyakinkan.

            “Ya, tidak mengapa, apabila belum bisa memberikan keputusan, apabila saudari berkenan dapat segera melakukan pemberkasan di (link pendaftaran mahasiswa baru Untirta)” ucap Pak Tono mengerti akan keadaanku.

            “Baik, terimakasih pak, segera saya putuskan setelah ini, pak” jawabku

            “Ya, terimakasih kembali, saya tutup telfonnya ya”

Tut – segera setelah telpon tersebut ditutup, ku kabarkan orang tuaku mengenai pesan yang disampaikan Pak Tono dan meminta pendapat dan keputusan darinya. Ayah segera memeriksa kebenaran pesan tersebut kepada pihak untirta karena khawatir adanya oknum dari Untirta yang menyalahgunakan informasi tersebut untuk mendapatkan keuntungan pribadi. Pihak Untirta kemudian memeriksa link pendaftaran yang dilampirkan Pak Tono dan menyatakan kebenaran yang disampaikan Pak Tono dengan melampirkan surat keterangan penerimaan mahasiswa baru Kedokteran Untirta gelombang 2. Aku segera melengkapi berkas-berkas yang dibutuhkan sebagai mahasiswa baru setelah konfirmasi kebenaran kabar tersebut. Perasaan senang yang meluap-luap kini memenuhi hati kecilku. Kutitikkan air mata haru atas jawaban Yang Maha Esa dari doa-doa yang kupanjatkan. Kupeluk kedua orang tuaku dan memohon ridho serta do’a untuk menghadapi rintangan yang akan kulalui selanjutnya sebagai mahasiswa baru Kedokteran Untirta 2019.

Setiap pagi terasa sangat cerah semenjak aku ternobatkan sebagai mahasiswa baru Kedokteran Untirta. Kesenangan itu tak berlangsung lama. Segera setelah penerimaan, jadwal yang padat dan tugas yang menumpuk menyadarkan keberadaan mahasiswa kedokteran. Kini aku harus kembali beradaptasi dengan situasi dan kondisi. Pagi yang produktif sampai malam hingga larut dipenuhi kegiatan-kegiatan akademik maupun non-akademik. Persaingan ketat sangat terasa diantara mahasiswa baru yang terpacu untuk terus unggul di bidangnya. Langkah demi langkah kusesuaikan agar aku dapat terus menjadi unggul versiku. Semakin hari beban pembelajaran semakin berat, dan waktu tidak bertambah. Selain mempelajari materi, aku pun terus mempelajari pengembangan diri yang efektif dan efisien untuk membangun kepribadian yang tangguh terhadap kesibukan dan sedikitnya waktu.

Saat adaptasi pembelajaran sudah kian membaik, ternyata wabah pandemi COVID-19 memasuki ranah Indonesia, dan lockdown diberlakukan. Kini kembali lagi dengan adaptasi diri terhadap pembelajaran jarak jauh (PJJ). Pelaksanaan PJJ cukup banyak merubah rutinitas dan meningkatkan kelalaian kebanyakan mahasiswa. Aku mulai menyadari bahwa kelalaian ini tidak boleh berlangsung terus menerus dan menghancurkan rutinitas yang telah dibentuk sedemikian rupa. Kembali aku menata diri dan terus berintrospeksi dengan kembali mengingat perjuanganku meraih titik ini. Aku berusaha aktif akademik maupun non-akademik, demi memanfaatkan masa-masa mahasiswa yang tidak akan terulang lagi. Aku semakin bersemangat untuk melangkah maju bersama dengan segala tantangan yang akan kuhadapi kedepannya.

Aku berjanji dalam hatiku, akan menjadi pribadi yang berprestasi dengan menggali pengalaman dan kepernahan sehingga aku dapat mengabdikannya kepada masyarakat. Karena kepada masyarakat kita akan kembali berkiprah, demi kemajuan kesehatan Indonesia.

Select the fields to be shown. Others will be hidden. Drag and drop to rearrange the order.
  • Image
  • SKU
  • Rating
  • Price
  • Stock
  • Availability
  • Add to cart
  • Description
  • Content
  • Weight
  • Dimensions
  • Additional information
  • Attributes
  • Custom attributes
  • Custom fields
Click outside to hide the compare bar
Compare