Pertemuan IHDC & ISMKI, Diskusi Mengenai Ideologi Kesehatan Indonesia.

Kediaman Prof. Nila, Jakarta, 14 September 2025 – Sebuah pertemuan strategis yang digelar di kediaman Prof. Nila Farid Moeloek, Menteri Kesehatan RI periode 2014-2019 sekaligus Ketua Dewan Penasihat Indonesia Health Development Center (IHDC), Pertemuan ini memperkenalkan IHDC kepada para mahasiswa kedokteran yang tergabung dalam Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia (ISMKI). Pertemuan ini menjadi ruang dialog mendalam untuk membahas kajian besar IHDC berjudul: “Reinterpretasi Ideologi Kesehatan Indonesia 2025.”

Turut hadir mendampingi Prof. Nila, yakni dr. Ray Wagiu Basrowi selaku Direktur Eksekutif IHDC, Eriq Moeloek sebagai Ketua IHDC Youth, serta dr. Arya Lukmana dan dr. Wahyu Handayani yang terlibat dalam kajian dan kegiatan IHDC. Pertemuan berlangsung hangat. Pertemuan dimulai dengan penegasan mengenai
pentingnya membangun sistem kesehatan yang tidak hanya kuat secara teknis, tetapi juga berpijak pada nilai-nilai dasar bangsa. Ditekankan bahwa Indonesia membutuhkan kerangka ideologis yang dapat mengarahkan kebijakan kesehatan agar benar-benar berpihak pada masyarakat, terutama kelompok yang paling rentan.

Dalam sesi pemaparan, perwakilan IHDC menjelaskan latar belakang penyusunan kajian tersebut. Kesehatan, menurut IHDC, harus dipahami sebagai bagian dari identitas bangsa, bukan sekadar layanan atau fasilitas, melainkan manifestasi dari nilai keadilan, solidaritas dan kemanusiaan. Berbagai persoalan kesehatan nasional seperti ketimpangan akses pelayanan kesehatan di daerah terpencil, distribusi dokter yang tidak merata, hingga ketergantungan impor bahan baku obat dianggap berakar pada absennya fondasi ideologi yang dirumuskan secara jelas.

Dalam dokumen tersebut, IHDC memperkenalkan enam dimensi ideologi kesehatan yang menjadi fondasi arah baru sistem kesehatan Indonesia yaitu :(1)Kedaulatan (2)Komunitas & Solidaritas (3)Kesetaraan, (4)Ekonomi & Jaminan Pembiayaan, (5)Pendidikan & Promosi Kesehatan, (6)Tata Kelola Sistem Kesehatan.

Keenam dimensi ini ditopang oleh prinsip partisipatif yang selama ini menjadi roh pelayanan kesehatan Indonesia yaitu : inklusivitas, kolektivitas, transparansi, otoritas dialogis, serta pemberdayaan berkelanjutan.

Salah satu momen penting dalam pertemuan adalah ketika IHDC membuka ruang diskusi lintas generasi. Di sinilah kehadiran ISMKI memainkan peran signifikan. Sebagai organisasi nasional, ISMKI membawahi 112 BEM Fakultas Kedokteran yang tersebar di seluruh Indonesia. Dengan partisipasi mahasiswa kedokteran dalam skala nasional, ISMKI mampu mencerminkan suara dan realitas pendidikan kedokteran dari berbagai daerah di Indonesia.

Diskusi berlangsung dinamis, diwarnai dengan pertukaran gagasan antara praktisi kesehatan IHDC, dengan mahasiswa kedokteran. Dari pertemuan tersebut audiens sepakat bahwa reinterpretasi ideologi kesehatan tidak hanya berhenti pada dokumen, tetapi seharusnya diterjemahkan menjadi kebijakan yang nyata.

Pada forum ini, ISMKI juga menyampaikan presentasi berisi pandangan serta masukan strategis dari perspektif mahasiswa kedokteran. Kontribusi tersebut menjadi bukti bahwa generasi muda siap mengambil peran lebih besar dalam penguatan sistem kesehatan nasional dan pembangunan kesehatan Indonesia ke depannya.

Secara keseluruhan, pertemuan 14 September ini menjadi langkah awal yang penting bagi kolaborasi yang lebih luas antara IHDC dan berbagai pemangku kepentingan, termasuk mahasiswa kedokteran. Forum ini menjadi titik berangkat bagi upaya bersama memperkuat arah pembangunan kesehatan Indonesia secara berkesinambungan.